Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Menjadi Asing dalam Rutinitas


Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. Hidup Meursault yang datar, nyaris tanpa ekspresi, seperti memantulkan keseharianku sendiri.

Bangun pagi, pergi ke kampus, berdiri di depan kelas, menjelaskan hal-hal yang disebut rasional, lalu pulang, istirahat, dan mengulanginya lagi esok hari. Semuanya berjalan dengan ketepatan yang hampir mekanis.

Seolah hidup ini bukan perjalanan, melainkan lingkaran tanpa pintu keluar. Aku seperti hanya berjalan di permukaan, tanpa benar-benar menyentuh kedalamannya.

Dalam pengulangan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa hilang. Bukan tiba-tiba, tapi seperti cahaya yang meredup sedikit demi sedikit, tanpa kita tahu kapan tepatnya ia mulai padam.

Seperti tokoh dalam Orang Asing yang sulit menyesuaikan diri dengan tuntutan emosi dunia, aku kadang merasa hanya menjadi pengamat dari hidupku sendiri. 

Seolah ada “aku” yang berdiri di luar, memperhatikan seseorang yang tampak seperti diriku mengajar, berbicara, menilai tugas, dan menjalankan peran yang secara administratif benar, tapi secara batin terasa jauh.

Kampus pun seperti panggung yang dibuka setiap hari dengan naskah yang sama. Wajah boleh berganti, tetapi substansinya terasa tetap: sesuatu yang kosong, seperti ruang yang terlalu lama tidak dihuni makna.

Malam hari, ketika semua suara mereda, muncul pertanyaan yang tidak lagi dramatis, melainkan dingin dan pelan. Apakah semua ini sungguh layak diperjuangkan, atau kita hanya sedang menunda pertemuan dengan kehampaan yang pasti datang tanpa perlu diundang?

Jika hidup, seperti yang dibaca Camus, adalah absurditas—benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan dunia yang tidak memberi jawaban—maka mungkin rutinitas ini adalah bentuk paling halus dari absurditas itu sendiri.

Kita tetap mengisi kelas, menyiapkan materi, dan datang tepat waktu. Bukan karena sudah menemukan alasan yang besar, tetapi karena tubuh ini sudah terlalu terbiasa untuk terus bergerak.

Anehnya, dalam kesadaran akan kekosongan itu, ada semacam keheningan yang tidak sepenuhnya gelap. Seolah ketika semua makna besar runtuh, yang tersisa bukan jawaban, melainkan kejujuran untuk tetap hidup.

Tetap bergerak, tetap melewati hari demi hari yang tidak menjanjikan apa pun selain dirinya sendiri.

Mungkin di situlah paradoksnya: meski semuanya tampak tanpa tujuan akhir yang pasti, kita tetap bangun di pagi hari, tetap melangkah ke kampus, tetap membuka pintu kelas. 

Seolah-olah masih ada sesuatu yang—meski tak bisa dijelaskan—membuat kita belum ingin berhenti di tengah jalan.

Post a Comment

Post a Comment