
Akhirnya aku mulai memahami letak kelemahanku sendiri. Selama ini aku masih hidup dalam keyakinan sederhana bahwa putih adalah putih dan hitam adalah hitam, seolah tak ada wilayah abu-abu di antara keduanya. Aku terlalu lama percaya bahwa segala sesuatu dapat dipilah dengan jelas: benar atau salah, jujur atau culas, idealis atau pengkhianat. Yah, padahal dunia tidak bekerja sesederhana itu. Akibatnya, aku sering menjadi korban dari caraku sendiri memandang kehidupan. Atau mungkin lebih tepatnya: aku terlalu polos untuk mengakui bahwa manusia tidak selalu bergerak atas dasar logika dan ketulusan. Dunia proyek, misalnya, ternyata jauh berbeda dari apa yang kupelajari di ruang kuliah. Ia bukan sekadar soal perencanaan, penghitungan risiko, atau kemampuan teknis yang rapi di atas kertas. Di dalamnya ada intrik, saling sikut, kepentingan tersembunyi, orang-orang yang pandai mencari muka, juga mereka yang rela mengorbankan siapa saja demi menyelamatkan dirinya sendiri. Aku terlalu sembrono: datang ke sana dengan kepala yang terlalu penuh teori. Aku juga pernah begitu yakin bahwa dulu pengalaman bukanlah tonggak utama pembentuk manusia. Aku percaya rasio adalah segalanya; bahwa selama seseorang mampu berpikir jernih, ia bisa memahami hidup tanpa harus jatuh berkali-kali. Kini aku sadar, keyakinan itu pun barangkali hanya bentuk lain dari kesombongan. Sebab ada hal-hal yang memang tak bisa dipelajari hanya dari buku, diskusi, atau ruang kelas. Ada kenyataan yang baru benar-benar dimengerti setelah seseorang dikhianati, dimanfaatkan, atau dipaksa menelan kecewa sendirian. Meski begitu, lucunya, sebagian diriku masih terus berusaha membela keyakinan lama itu. Masih mencoba percaya bahwa rasionalitas tetap lebih tinggi daripada pengalaman. Ya, mungkin ini hanya bentuk apologi terakhir dari seseorang yang terlalu lama hidup dalam kepalanya sendiri.
Post a Comment