
Merdeka!!
Eh, tunggu dulu. Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin istilah
“jomblo” perlu direvisi. Kata itu terlampau lama dibebani stigma sosial yang
tidak adil. Ia terdengar seperti status kegagalan, padahal kesendirian kadang
hanyalah bentuk lain dari kesetiaan pada harapan yang belum datang.
Mari kita
gunakan istilah yang lebih manusiawi: “Tuna asmara.” Sebab sebagaimana amanat
konstitusi, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk dicintai dan
mencintai. Maka penjajahan terhadap kaum jomblo melalui meme, cibiran, dan
pertanyaan “kapan nyusul?” harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri
kemanusiaan dan peri keadilan.
Raisa datang
membawa harapan baru itu.
Di masa ketika lagu-lagu galau sedang menguasai peradaban anak
muda Indonesia, kemunculan Raisa terasa seperti cahaya kecil di ujung lorong
panjang kegagalan move on. Lagu-lagunya memang membuat orang terjebak nostalgia,
tetapi justru di situlah para tuna asmara menemukan tempat berlindung.
Ada yang gagal move on lewat “Mantan Terindah”. Ada yang
terjebak harapan dalam “Apalah (Arti Menunggu)”.Ada pula yang hidupnya mendadak
terasa “Serba Salah”. Tapi entah bagaimana, wajah teduh dan suara lembut Raisa
membuat semua luka itu terasa sedikit lebih bisa diterima.
Jika dipaksa
mencari analogi sejarah, mungkin kehadiran Raisa bagi kaum tuna asmara mirip
seperti René Descartes saat membawa
pencerahan setelah Abad Kegelapan Eropa. Sebuah momen ketika manusia kembali
percaya bahwa harapan masih mungkin dipikirkan.
Sebelum era Raisa, sebenarnya para tuna asmara Indonesia telah
memiliki figur pemersatu nasional: Dian
Sastrowardoyo.
Sulit membantah pesona perempuan yang melejit lewat Ada Apa dengan Cinta? itu. Ia cerdas, puitis,
tenang, dan memiliki aura yang membuat banyak lelaki rela memelihara kesedihan
romantik bertahun-tahun. Bahkan Rangga saja memilih menyendiri di New York.
Maka wajar jika
para tuna asmara kala itu secara aklamasi menetapkan Dian Sastro sebagai: “The
Best Woman in Indonesia.”
Sejarah selalu
kejam terhadap harapan kolektif.
Ketika kabar pernikahan Dian Sastro dengan Indraguna Sutowo tersebar, banyak tuna asmara
mengalami guncangan batin yang sulit dijelaskan ilmu psikologi modern. Sebagian
muntab. Sebagian murung. Sebagian lagi diam-diam memutar lagu galau sambil
menatap langit kamar kos.
Itu adalah zaman kegelapan. Lalu muncullah nama-nama lain: Alyssa Soebandono, kemudian Revalina S. Temat. Mereka sempat menjadi
mercusuar harapan baru. Tapi sejarah kembali berulang. Satu per satu
dipersunting lelaki lain, meninggalkan kaum tuna asmara dalam keadaan limbung
ideologis.
Ketika
kekacauan emosional itulah Raisa datang. Bukan sebagai sekadar penyanyi. Melainkan
simbol bahwa setelah patah hati paling gelap sekalipun, manusia masih bisa
jatuh cinta lagi—meski kali ini hanya lewat lagu dan imajinasi.
Tentu saja
perjalanan belum selesai. Sebab dalam Musyawarah Nasional Imajinatif Tuna
Asmara Indonesia, sempat muncul nama Chelsea
Islan sebagai kandidat penerus estafet harapan nasional.
Harus diakui, Chelsea memang memiliki sesuatu yang sulit
dijelaskan. Ada perpaduan antara wajah imut, kecerdasan, dan ekspresi bete yang
entah mengapa justru membuat banyak lelaki merasa hidup mereka masih layak
diperjuangkan.
Akhirnya, sejarah telah menetapkan jalannya sendiri. Raisa
bukan sekadar penyanyi bagi generasi itu. Ia adalah penanda zaman. Sebuah fase
ketika para tuna asmara Indonesia belajar bahwa meski cinta sering gagal
dimiliki, manusia selalu punya kemampuan aneh untuk kembali berharap.
Mungkin itulah
bentuk paling sederhana dari keberanian manusia: tetap jatuh cinta meski
berkali-kali kalah.
2 comments