Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Lis Yang Memaknai Diriku

Pada malam yang dingin, syahdu, sunyi, dan nyaris kehilangan gairah hidup ini, aku tiba-tiba kembali mengingat seorang perempuan yang pernah diam-diam mengubah cara pandangku terhadap dunia. Lis. Begitulah aku biasa menyebutnya—tiga huruf teramat sederhana. Yang entah mengapa selalu mampu membuat dadaku dipenuhi perasaan ganjil antara rindu, kehilangan, dan ketidakpantasan. Jika kupikir-pikir, mungkin sejak awal aku memang tidak benar-benar jatuh cinta kepada dirinya semata, melainkan kepada versi diriku sendiri ketika pertama kali mengenal keindahan hidup melalui kehadirannya. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP, masih terlalu muda untuk memahami mengapa satu tatapan dapat mengguncang seluruh ketenangan batin seseorang. Aku masih ingat pertemuan pertama itu; di persimpangan menuju ruang guru, ia berjalan bersama temannya sementara aku berdiri terpaku seperti manusia yang baru pertama kali menyadari bahwa dunia ternyata mampu menyimpan keindahan sedemikian rupa. Di bawah pelupuk mata kirinya terdapat sebuah andeng-andeng kecil, dan entah mengapa justru di situlah seluruh pesonanya terasa hidup. Sejak hari itu, pertahanan batinku perlahan runtuh. Aku mulai mengenal kegelisahan, harapan, sekaligus ketakutan kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki. Mungkin dari sinilah semua persoalan ini bermula: aku terlalu cepat menjadikan dirinya sebagai ukuran untuk menilai diriku sendiri. Ketika akhirnya aku menyatakan perasaan itu dan hanya menerima jawaban, “Aku senang jadi temanmu,” yang hancur sebenarnya bukan sekadar harapanku untuk memilikinya, melainkan cara pandangku terhadap diriku sendiri sebagai laki-laki. Sejak saat itu aku mulai memawas diri sebelum jatuh cinta, mulai mengukur kelayakan diriku sebelum berharap, seolah cinta hanya pantas dimiliki oleh mereka yang memiliki keberanian, kemapanan, dan keyakinan penuh terhadap dirinya sendiri—sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupunya. Maka diam-diam aku hidup dengan perasaan bahwa diriku selalu kurang untuk siapa pun. Lis mungkin tidak pernah tahu bahwa kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan, tetapi juga membentuk seluruh kesadaranku tentang cinta, tentang harga diri, bahkan tentang arti menjadi manusia. Sebab setelah dirinya, aku tidak lagi mencintai dengan polos, melainkan dengan ketakutan. Tidak lagi berharap dengan utuh, melainkan dengan keraguan. Hingga hari ini, ketika hidup terasa semakin asing dan masa depan tampak kabur di hadapanku, aku kadang sadar bahwa yang sebenarnya kurindukan bukan hanya dirinya, melainkan diriku sendiri yang pernah percaya bahwa cinta dapat membuat manusia merasa cukup. Barangkali memang begitulah cara kehidupan bekerja; beberapa orang hadir bukan untuk menetap, melainkan untuk meninggalkan luka yang perlahan berubah menjadi kesadaran. Hanya satu hal yang pasti. Bahwa tanpa Lis aku tidak akan pernah benar-benar mengenal betapa rapuh, kecil, sekaligus dalamnya diriku sendiri di hadapan kehidupan.

2 comments

2 comments