Mulai hari ini aku harus memikirkan persoalan-persoalan yang lebih besar. Terutama kuliah yang terlalu lama terbengkalai, serta tanggung jawab masa depan yang tak bisa terus-menerus kutunda hanya karena sibuk berkutat pada lingkaran-lingkaran kecil yang melelahkan.
Ada harapan orang tua yang telah lama kupikul di pundak ini. Cepat atau lambat, harapan itu harus kupertanggungjawabkan. Tanpa menyelesaikan persoalan itu, aku merasa tak akan pernah mampu menatap masa depan dengan tegas.
Sebelum melangkah ke depan, aku tahu bahwa aku harus terlebih dahulu menoleh ke belakang. Melihat ulang serpihan-serpihan masa lalu, memilah benturan-benturan yang pernah terjadi, lalu memeras maknanya sampai ke inti terdalam.
Tanpa proses itu, aku hanya akan menjadi manusia tanpa riwayat kesadaran—manusia yang ingin berubah tanpa pernah memahami bagaimana dirinya dibentuk oleh luka, kesalahan, dan kegagalan.
Memang tidak mudah mengenang masa-masa pahit. Ada rasa sakit yang muncul setiap kali ingatan dipaksa membuka kembali ruang-ruang lama yang sebenarnya ingin dilupakan. Tapi justru dari sanalah proses itu dimulai. Sebab makna tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari benturan.
Itulah kenapa aku harus “membunuh” diriku sendiri secara filosofis. Bukan membunuh tubuh, melainkan membunuh ego, kesombongan, dan cara berpikir lama yang selama ini mengurungku. Sebuah penghancuran diri agar lahir bentuk diri yang baru.
Semakin jauh aku merenung, semakin kusadari betapa paradoksal kehidupan ini. Bahwa manusia sering kali hidup di antara pertentangan-pertentangan yang tak pernah selesai: antara idealisme dan kenyataan, antara perasaan dan rasio, antara harapan dan keterbatasan.
Mungkin karena itulah hidup harus diterima sebagai sunatullah—sesuatu yang bergerak melalui kontradiksi.
Jika kulihat lebih dalam ke dalam diriku sendiri, ada beberapa kelemahan yang selama ini menjadi sumber benturanku dengan kehidupan.
Pertama, aku terlalu sering memandang fenomena sosial dalam bentuk yang terlalu umum dan abstrak. Aku melihat manusia sebagai konsep, bukan sebagai individu-individu konkret dengan kepentingan, intrik, dan kerumitannya masing-masing. Akibatnya, relasi sosial yang kujalani sering berhenti sebatas pembelajaran intelektual, sementara aku gagal membaca dinamika-dinamika kecil yang diam-diam menentukan kenyataan.
Dari situ lahir kelemahan kedua: aku terlalu rasional ketika melihat dunia luar, tetapi terlalu intuitif ketika berhadapan dengan dunia batinku sendiri. Barangkali karena itu pula aku sering dianggap polos.
Ketiga, seperti yang pernah dikatakan seorang kawan lamaku di HMI, aku terlalu sibuk memikirkan hal-hal besar hingga melupakan persoalan-persoalan kecil. Padahal justru hal-hal kecil itulah yang sering kali tumbuh diam-diam, lalu menghantam kehidupan dengan keras ketika dibiarkan menumpuk terlalu lama.
Keempat, aku gagal membedakan mana “tempat tinggal” dan mana “tempat singgah”. Aku terlalu lama memandang HMI sebagai rumah tinggal, padahal seharusnya ia kupahami sebagai tempat singgah dalam proses perjalanan intelektual dan pembentukan diri.
Aku terlalu mengidealkan organisasi itu hingga larut sepenuhnya ke dalam denyut kehidupannya, sementara di luar sana ada tanggung jawab lain yang seharusnya lebih dahulu kuselesaikan.
Bukan berarti aku menyesali HMI.
Justru dari sanalah sebagian besar cara berpikirku dibentuk. HMI telah mengubah cara pandangku terhadap dunia, manusia, dan diriku sendiri. Banyak sisi dalam diriku hari ini lahir dari proses panjang di dalamnya.
Adapun kelemahan kelima—dan mungkin yang paling berbahaya—adalah ego.
Orang-orang terdekatku sering mengatakan bahwa aku sulit menerima kritik. Mungkin mereka benar. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab sering kali penolakanku terhadap kritik bukan lahir dari keengganan untuk berubah, melainkan dari kegelisahan terhadap cara orang menarik kesimpulan tentang diriku secara tergesa-gesa.
Aku masih ingat seseorang pernah menyebutku bodoh—bahkan sangat bodoh. Tentu saja aku menolaknya. Bukan karena aku merasa paling benar, melainkan karena aku bertanya: apakah seseorang benar-benar dapat memahami manusia lain secara utuh hanya dari potongan-potongan kecil yang ia lihat?
Bukankah banyak penilaian manusia dibangun di atas asumsi, prasangka, dan generalisasi yang rapuh?
Manusia terlalu mudah menyimpulkan sesuatu tanpa terlebih dahulu memeriksa validitas premis-premis yang digunakannya. Kata-kata dilempar begitu saja, seolah bahasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap kenyataan yang diwakilinya.
Mungkin karena terlalu lama berpikir seperti itulah aku akhirnya menjadi pribadi yang kaku dalam berkomunikasi dan sulit berkompromi. Itu adalah kelemahan lain yang harus kuakui: keenam.
Karena itu, melalui refleksi ini, aku berharap dapat perlahan menarik kembali diriku menuju bentuk yang lebih matang. Sebuah proses “bunuh diri filosofis”: penghancuran terhadap ego dan pola pikir lama demi memberi ruang bagi kesadaran baru untuk lahir.
Bukan bunuh diri tubuh. Melainkan pembunuhan terhadap diri lama yang selama ini menghambatku untuk bertumbuh.
Post a Comment