Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Satu Paragraf: The God Delution

The God Delusion adalah salah satu buku paling kontroversial yang pernah berani diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Meski pertama kali terbit pada 2006, gema polemiknya masih terdengar hingga hari ini. Buku ini bahkan kerap dianggap sebagai “kitab suci” kaum ateis modern. Dalam pengantarnya saja, Richard Dawkins secara terang-terangan berharap agar siapa pun yang membaca bukunya dapat sampai pada satu kesimpulan: meninggalkan keyakinan terhadap Tuhan. Tentu saja kalimat seprovokatif itu membuat para pemuka agama—terutama di Barat yang tradisi Kristennya sangat kuat—naik pitam. Dawkins dicaci, diserang, sekaligus dipuja layaknya nabi baru sains modern. Sebenarnya keinginanku membaca buku ini sudah muncul sejak sekitar 2014, ketika sedang asyik membaca The Mind of God karya Paul Davies. Sialnya, seperti kebanyakan niat intelektual anak muda, hasrat itu tenggelam begitu saja di antara kesibukan yang sok penting padahal tidak terlalu produktif. Sampai akhirnya, beberapa waktu lalu, dalam sebuah percakapan malam yang muram dan penuh asap rokok, seseorang melontarkan kalimat yang kembali membangunkan rasa penasaranku: “Superioritas agama dalam sejarah kebudayaan manusia telah menjembatani jutaan orang saling menghunus pedang.” Dawkins memang banyak menggugat hal semacam itu. Baginya, agama-agama monoteistik bukan hanya melahirkan peradaban, tapi juga meninggalkan jejak panjang kekerasan, perang, dan klaim kebenaran absolut. Sejarah Eropa, Timur Tengah, hingga tragedi-tragedi atas nama Tuhan menjadi ladang empuk bagi argumennya. Yang terutama diserang Dawkins sebenarnya adalah konsep agama supernatural: gagasan tentang Tuhan sebagai sosok adimanusia yang maha mengatur, maha mengawasi, maha menentukan nasib manusia dari balik langit. Dalam kritik Dawkins, manusia akhirnya tampak seperti wayang kosmik yang bergerak hanya karena ditarik benang takdir ilahi. Sebagai seorang biolog evolusi, Dawkins percaya bahwa sainslah yang bekerja keras menjelaskan ketidaktahuan manusia, sementara agama terlalu sering meminta manusia menerima jawaban jadi tanpa banyak bertanya. Dari situlah muncul istilah “God Delusion”—Tuhan sebagai konstruksi khayal yang diwariskan oleh rasa takut, tradisi, dan kebutuhan psikologis manusia. Eh, tunggu dulu. Semua diskusi filsafat itu mendadak menjadi lucu jika dibawa ke Indonesia. Sebab di negeri ini, menjadi ateis bukan cuma perkara metafisika, melainkan juga urusan administrasi kependudukan. Kita boleh saja berdiskusi panjang soal nihilisme sambil minum kopi pahit dan merasa sekelas Nietzsche, tapi ujung-ujungnya tetap harus mengisi kolom agama di KTP. Kalau nekat mengosongkannya, urusan bisa panjang: susah melamar kerja, mengakses layanan publik, bahkan menikah. Jadi, di Indonesia, pertanyaan eksistensialnya bukan lagi “Apakah Tuhan ada?”, melainkan: “Mau tetap ateis, atau mau tetap bisa ngurus berkas?”

Post a Comment

Post a Comment