
Saat aku berlari ke hutan dan berteriak seperti Tarsan, hutan tetap sibuk dengan dirinya sendiri. Pepohonan tidak peduli. Burung-burung tak menoleh. Semesta tidak memberikan gema apa pun selain kesunyian yang dingin.
Lalu aku berlari ke pantai dan berteriak, “Aku mencintaimu!” Hanya deru ombak yang menjawab.
Di titik itulah aku mulai memahami sesuatu: mungkin dunia memang tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengerti manusia.
Jean-Paul Sartre pernah menggambarkan kegelisahan itu dengan sangat telanjang: “Dunia ini tiba-tiba saja menampakkan dirinya sendiri.”
Sebuah dunia yang hadir tanpa alasan yang jelas. Tanpa tujuan yang pasti. Tanpa kewajiban untuk menjelaskan dirinya kepada manusia.
Bagi Sartre, manusia dilempar begitu saja ke dalam keberadaan, lalu dipaksa menentukan maknanya sendiri. Karena itu, kebebasan bukanlah hadiah yang menyenangkan, melainkan kutukan. Manusia bebas untuk memilih, tetapi sekaligus dipaksa menanggung seluruh konsekuensi dari pilihannya.
Dari sini kecemasan lahir. Manusia menjadi makhluk yang sendirian menghadapi kebebasannya sendiri. Lalu datang Friedrich Nietzsche dengan kalimatnya yang terkenal: “God is dead.”
Bukan sekadar pernyataan tentang kematian Tuhan, melainkan runtuhnya pusat makna yang selama berabad-abad menopang kehidupan manusia. Sejak saat itu manusia kehilangan langit tempat menggantungkan kepastian. Nilai-nilai lama runtuh. Moral menjadi relatif. Manusia mulai terasing—bukan hanya dari Tuhan, tetapi juga dari dirinya sendiri.
Kita memasuki zaman alienasi.
Segala sesuatu menjadi tidak menentu. Setiap pilihan terasa menggantung di ruang kosong. Dunia tidak menjanjikan balasan apa pun atas penderitaan, cinta, maupun harapan manusia.
Albert Camus datang membawa kabar yang lebih getir lagi: bukan hanya dunia yang absurd, manusia sendiri juga absurd.
Manusia terus mencari makna di semesta yang diam. Terus berharap pada dunia yang tak memiliki kewajiban untuk menjawab. Dari benturan antara hasrat manusia akan makna dengan kebisuan semesta itulah absurditas lahir.
Camus menyadari bahwa hidup pada akhirnya akan berujung pada kematian. Tapi, justru karena itulah manusia ditantang untuk tetap hidup tanpa ilusi.
Bukan melarikan diri. Bukan menyerah. Bukan pula melakukan “bunuh diri filosofis”—yakni membunuh kesadaran kritis demi berlindung pada jawaban-jawaban metafisis yang menenangkan. Sebab dunia memang tak pernah sepenuhnya dapat dipahami.
Mungkin tugas manusia bukanlah menaklukkan absurditas itu, melainkan belajar hidup bersamanya.
Aku kembali berlari ke hutan. Kembali menuju pantai. Kali ini tidak lagi berteriak, “Aku mencintaimu.” Aku hanya diam memandangi ombak, lalu bergumam pelan: “Aku hanyalah sepotong momen pendek dalam semesta absurd yang terus bergerak tanpa peduli pada keberadaanku.”
Anehnya, justru dalam kesadaran akan kesia-siaan itulah, manusia mungkin pertama kali belajar menjadi benar-benar bebas.
Post a Comment