Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Kafka on the Shore: Poros Ruang-Waktu

Kau merasakan kehadirannya bahkan sebelum benar-benar membuka mata. Sesuatu di kamar itu berubah—tipis, nyaris tak kasatmata, tapi cukup untuk mengusir tidur dari tubuhmu.

Perlahan kau membuka mata. Gelap. Jam digital di samping ranjang menunjukkan pukul dua belas lewat beberapa menit. Di luar jendela, lampu taman memantulkan cahaya kekuningan yang redup, cukup untuk membuat bayangan benda-benda di kamar tampak samar dan asing.

Di sana, di dekat meja itu, seseorang duduk diam. Terpaku.

Seperti biasa tubuhnya menghadap lukisan di dinding. Kepalanya bertumpu pada satu tangan, sementara tangan lainnya terkulai lemah di atas meja. Ia tidak bergerak sedikit pun, seolah serpihan mimpi yang lupa lenyap ketika pagi tiba.

Kau tetap berbaring, menahan napas, berpura-pura masih tertidur. Dari sela mata yang setengah terbuka, kau memandangi siluetnya dalam diam. Di luar, angin laut mengguncang ranting-ranting pohon hingga bayangannya bergetar pada bingkai jendela.

Lama sekali tak ada yang berubah. Kau menunggu. Eh, perlahan kau mulai menyadari sesuatu. Ada yang tidak beres. Sesuatu yang kecil, tapi cukup untuk merusak keharmonisan ganjil dalam dunia malam itu.

Kau mencoba melihat lebih saksama. Angin di luar terdengar semakin keras. Darah dalam tubuhmu terasa bergerak lambat dan berat, seolah jantungmu memompa cairan dingin, bukan darah. Bayangan ranting-ranting pohon di jendela kini tampak seperti guratan tangan yang gelisah.

Lalu sosok itu bergerak.

Perlahan ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekat ke arah tempat tidurmu. Pada saat itulah kau sadar: perempuan itu bukan gadis muda yang biasa datang ke kamar ini. Bentuk wajahnya memang serupa, hampir identik, tapi ada sesuatu yang hilang. Seperti salinan lukisan yang dibuat tergesa-gesa.

Beberapa detailnya tidak utuh. Rambutnya berbeda. Caranya berjalan berbeda. Bahkan kehadirannya membawa suhu yang berbeda. Tanpa sadar kau menggeleng pelan di balik selimut. Bukan dia. Ini orang lain.

Jantungmu mulai berdetak semakin keras lagi. Kau menggenggam erat ujung selimut, berusaha menenangkan tubuhmu sendiri. Tapi suara detak itu justru terasa menggema di seluruh kamar, seperti tanda yang memanggil sesuatu untuk mendekat.

Bayangan di dekat meja perlahan menoleh ke arahmu. Gerakannya lambat, seperti kapal besar yang sedang mengubah haluan di tengah laut sunyi.
Saat wajahnya tersentuh cahaya samar dari luar jendela, kau mengenalinya. Lis.

Bukan gadis berusia lima belas tahun itu. Bukan kenangan masa lalu yang datang diam-diam setiap malam. Tapi Lis yang sekarang. Lis yang nyata.

Kau menelan ludah. Napasmu terlepas begitu saja.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti bergerak.
Sebuah pikiran aneh melintas di kepalamu: mungkin waktu sedang rusak malam ini. Mungkin batas antara mimpi dan kenyataan telah larut seperti air sungai yang bercampur dengan laut.

Kau mencoba mencari logika di balik semua ini, tetapi tak ada satu pun yang masuk akal.
Nona Saeki berdiri dari kursi lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang. Ia tidak memakai alas kaki. Lantai kayu berdecit lirih setiap kali telapak kakinya menyentuh permukaan.

Ia duduk di tepi ranjangmu. Tubuhnya nyata. Berat tubuhnya terasa menekan kasur. Aroma samar dari rambut dan kulitnya memenuhi udara di sekitarmu.

Rupaya ia mengenakan blus sutra putih dan rok panjang berwarna senada. Dengan lembut ia mengangkat tangannya, lalu menyentuh rambutmu. Jemarinya membelai kepalamu perlahan, seolah sedang memastikan bahwa kau benar-benar ada.

Sentuhan itu nyata.
Terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Lalu, tanpa tergesa dan tanpa keraguan, ia mulai melepaskan pakaiannya satu per satu. Kancing blusnya terbuka perlahan. Roknya jatuh ke lantai. Suara kain menyentuh kayu nyaris tak terdengar.

Matanya tetap terbuka, tapi kosong. Barulah kau sadar: ia sedang tidur. Atau mungkin berjalan dalam mimpi yang terlalu dalam untuk dibedakan dari kenyataan.

Setelah telanjang, ia naik ke ranjang sempit itu dan memeluk tubuhmu. Napas hangatnya menyentuh lehermu. Rambutnya yang panjang menjuntai di dadamu.

Tiba-tiba kau memahami sesuatu yang membuat dadamu sesak. Ia tidak sedang bersamamu. Ia mengira kau adalah seseorang dari masa lalunya. Seorang kekasih yang telah lama meninggalkanya, tapi belum benar-benar pergi dari tubuh dan ingatannya.

Dalam tidur itu ia kembali ke masa bersama kekasihnya pada masa lalu, mengulang gerakan yang pernah mereka miliki bersama sebagai kenangan indah. Menumpahkan cinta dalam pergulatan hasrat.

Kau ingin membangunkannya. Sungguh.
Kau ingin berkata bahwa ia keliru. Bahwa ini bukan masa lalu. Bahwa lelaki yang ia cari tidak ada di sini.
Anehnya, tubuhmu seakan kehilangan kuasa. Kau tidak berdaya melawannya.

Sesuatu yang hangat dan asing perlahan membungkus kesadaranmu. Seperti cairan lembut yang menarikmu masuk lebih jauh ke dalam mimpi miliknya. Kau merasakan dirimu tenggelam dalam poros waktu yang tak memiliki arah. Tak ada lagi batas jelas antara tubuh, kenangan, dan mimpi. Semua melebur menjadi satu.

Di luar jendela, angin terus menggoyangkan ranting-ranting pohon. Bulan perlahan naik di atas laut yang gelap. Dalamikamar kecil itu, kau membiarkan dirimu hanyut sepenuhnya ke dalam dunia yang bukan milikmu.

Entah berapa lama semua itu berlangsung. Waktu terasa kehilangan bentuknya. Ketika akhirnya semuanya selesai, tubuhmu terasa lumpuh. Kau hanya bisa berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang remang.

Lis perlahan bangkit dari ranjang. Dengan gerakan tenang ia mengenakan kembali pakaian-pakaiannya, lalu menghampirimu sekali lagi. Ia mengusap rambutmu pelan. Tetap tanpa kata-kata. Kau hanya merasakan suara lantai kayu yang berdecit dan desir angin malam di luar jendela yang terdengar samar.

Kemudian ia berjalan menuju pintu. Ia masih seperti orang yang belum benar-benar terbangun. Tubuhnya melewati celah pintu dengan tenang, lalu menghilang begitu saja ke dalam gelap rumah. Pintu kembali tertutup perlahan.

Kau ingin bangkit. Ingin memanggilnya. Tapi tubuhmu tak mampu bergerak. Bibirmu terasa terkunci rapat, seolah kata-kata telah dicabut dari dunia.

Ketika akhirnya kesadaranmu perlahan kembali sepenuhnya, kau menatap tubuhmu sendiri dalam diam. Selimutmu basah. Saat itulah kau sadar: mungkin sejak awal kau memang tak pernah benar-benar terbangun.
Post a Comment

Post a Comment