
Aku telah memilikinya secara utuh. Poros ruang dan waktu yang dahulu berdiri sebagai penghalang angkuh antara harapanku dan impiannya, kini telah kulululantakkan. Inilah kedaulatan imajinasi. Kami telah melebur dalam bingkai cinta yang mutlak. Tak ada lagi dikotomi "aku" dan "dia". Cinta telah mewujud, menanggalkan keakuan kami, dan menyatukan dua entitas yang sebelumnya terpisah menjadi satu kesatuan yang tak terbagi.
Gemuruh ombak pantai dan burung camar yang berkejaran di atasnya kini tak lebih dari sekadar derau latar yang tak kuhiraukan. Senja? Aku tak lagi peduli. Aku tidak seperti mereka, kawanan manusia yang menanti ufuk barat dengan tatapan memelas.
Sepintas, kulihat lalu-lalang manusia dengan pakaian serba terbuka, sibuk dengan eksistensi yang dangkal. Mereka tenggelam dalam riuh kebahagiaan yang semu. Aku mengamati mereka sembari bertanya dalam hati: Dapatkah mereka bertahan? Dapatkah mereka menyelesaikan tetek-bengek persoalan hidup yang penuh persyaratan kriteria itu?
“Ah... aku sudah muak dengan urusan dunia ini,” gerutuku.
Aku ingin menjadi manusia yang berbeda. Menyingkirkan dunia fana ini dan menggantinya dengan duniaku sendiri. Aku harus bebas dari dimensi di mana setiap kali kau berharap, kau harus berebut dengan harapan orang lain. Dunia yang selalu menuntut kualifikasi agar kau layak dicintai.
Lalu, dia datang. Wanitaku, menghampiri duniaku dalam balutan pakaian serba putih. Langkah kakinya gontai namun gemulai, menyerupai gerak bidadari yang memangkas jarak di negeri kahyangan. Rambutnya terikat rapi, wajahnya cergas dengan mata yang menyimpan rahasia semesta. Tak ada cela. Ia menatapku dengan syahdu, dan terjadilah kaidah keindahan itu: sebuah senyum tersamar, tarikan bibir sepanjang dua sentimeter yang presisi.
Senyuman itu mengingatkanku pada seberkas sinar yang hanya bisa kutemukan di petak ruang paling terpencil dalam jiwaku. Sebuah kesempurnaan yang tak mampu dijelaskan oleh logika, namun menjadi alegori bagi hidupku. Sebuah alegori di mana aku tak lagi mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang fana. Hanya ada cinta.
Aku semakin terjerat, melaju menembus batas waktu. Gerak penaku bekerja di bawah komando kekuatan imajinasi. Sementara di luar sana, mereka mulai histeris membicarakan senja. “Lihat, itu senja paling keemas-emasan!” seru mereka sembari mengabadikan momen dengan kamera, berpelukan, dan berciuman mesra.
Aku tak peduli. Itu bukan duniaku.
Apakah mereka tidak tahu bahwa senja sebenarnya adalah pembatas yang tragis? Ia adalah sekat yang memastikan siang dan malam tak akan pernah bisa bersatu. Eksistensi senja adalah bentuk kemirisan dari sebuah keindahan. Seperti kata Seno Gumira Ajidarma, senja paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dengan malam yang gelap dan menyedihkan.
Maka, aku memilih fokus pada duniaku. Melalui derit pena di atas kertas, aku menghirup harum tubuhnya yang selama ini hanya ada dalam mimpi. Pena kecil ini terus menenuni bait-bait kata, melukiskan dirinya dalam dekapan imajinasi: senyum dua sentimeter itu, andeng-andeng itu, dan lesung pipit itu.
Euforia dalam diriku memuncak. Ia mendekap dan membelaiku. Kami melebur tanpa bahasa. Akal telah kehilangan eksistensinya, hanya hati yang berkendak bebas dalam tenunan cinta. Di sini, tidak ada ruang, tidak ada waktu. Cinta kami abadi, terkurung dengan indah dalam dekapan imajinasi.
Post a Comment