Saturday, March 31, 2018

Sajak Liar: Tanpa Judul

Tags

Dipengujung waktu, dipersimpangan jalan himpunan, kau tak pernah tahu kalau bahasaku telah tertinggal. Tertinggal bersama rasa ingin tahuku tentangmu. Makin hari, makin subur rasanya bunga-bunga itu. Tumbuh bersama angan dalam semua kemungkinanku denganmu

Awalnya kubiasa-biasa saja, tak merasakan apapun, tak ada istimewa, dan tak ada spesial juga tentunya. Tapi siapa yang bisa melawan hati? Hati tetaplah hati, bukan akal yang bisa berlogika.

“Hidup memang sederhana,” kata kebanyakan orang berkata, tapi bagaimana kita bisa menyederhanakan hati manusia –cinta?

Lambat laun semua berubah, seperti ada yang lain. Tentu kelainan ini bukan dari negara api yg menyerang. Lain, ini memang lain. Kelainan ini bak sebuah fatamorgana, yang tatkala kau mendekat, sesuatu itu langsung menghilang.

Usut punya usut, penyebab utamanya adalah kamu. Ya, kamu yang pernah jawab ‘ya’ dalam permainan logika.

Diam, adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Karena secara diam, bayangmu diam-diam menyusup perlahan, enyelinap ke dinding hati yang dulu pernah sempat terjamah, dan serta-merta langsung merajut serpihan kasih dari benang asmara yg telah kusut.

Pertahananku pun jebol. Pintu hati pun kembali terbuka, dan secara diamnya, kau berhasil masuk di satu petak ruang hati.
“Aishh...sial,” keluhku. Hati yang belum sembuh total ini, yang masih dalam tahap proses pemulihan, dan yang dulu pernah tersakiti, kembali terketuk.

Bersama angan, kumulai mengaksarakanmu dalam kata. Kata yang sekian lama terlantar dibalik kursi itu, kuambil. Kususun kata-kata itu menjadi wajahmu. Hanya perlu goresan kecil kuperbaiki rambutmu yg hitam pekat. Senyummu pun tersimpul mesra ditiap derit gerak penaku.

“Hei....kau tahu?” kata-kata itu memegang hidungku. Kurasai kalimat lirih berbisik menelusuri relung hati: “Saatnya kau berhenti melamun mengangankanku.”

Seketika itulah kusadar: Kita memang terpisah dalam dua maginasi yg berbeda. Kau terlahir dari serpihan sajak, sedangku menyusurimu dalam jemari yang menari.

Menari dengan segala kemungkinan yang paling mungkin kuangankan. Kemungkinan yang hanya akan menjadi sebatas kemungkinan, yang takkan pernah mungkin menjadi kenyataan.

Jadi biarlah kata-kata itu kembali kuhamburkan. Kembali berserakan tersapu waktu, dan terlantar lagi dibalik kursi. Karena seperti katamu: “Berani mencintai, harus berani sakit.”


EmoticonEmoticon