Friday, September 15, 2017

Cerita Seorang Ibu Kepada Anaknya Tentang Mendiang Suaminya

Tags

Sore itu hujan turun deras sekali. Hari sudah semakin gelap, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Sudah semenjak ashar tadi hujan turun. Mungkin jalanan sekarang mulai becek karena air hujan, atau banyak buah mangga berjatuhan di sekitar pohonnya karena goyangan angin yang tadi sempat bertiup kencang.

Mungkin pula, di rumah para penduduk desa mulai banyak yang menggerutu karena padinya yang baru ditanam tenggelam akibat banjir yang melanda sawah mereka. Lalu, siapa yang masih berbahagia di tengah hujan yang turun deras sekali ini?

Ada beberapa orang yang mengatakkan bahwa di saat-saat seperti ini –hujan, kodoklah makhluk yang paling bahagia. Mereka menganggap bahwa suara kodok di kala hujan adalah nyanyian kebahagiaan. Tapi laki-laki yang baru tiba dari Jogja itu sangsi terhadap penganggapan tersebut. Apa mereka mengerti bahasa kodok –binatang? Bukankah hanya Nabi Sulaiman dan Paduka Angling Dharma yang bisa mengerti bahasa binatang?

“Pastinya mereka hanya menebak saja,” pikirnya laki-laki itu. Mereka mengira bahwa suara yang dikeluarkan kodok kala hujan adalah nyanyian kebahagiaan. Padahal siapa yang tahu kalau kodok itu sedang menangis? “Akhh...manusia memang seringkali egois dalam menilai sesuatu, bahkan ketika ia menilai sesama manusia,” gerutunya kesal.
---------------------

Hujan turun semakin deras. Tetapi angin tidak lagi bertiup kencang dan juga petir tidak lagi bergemuruh hebat. Hanya suara rintikan hujan dan bau basah tanah yang menjadikan suasana sore itu menjadi hidup. Dalam suasana seperti ini apa yang lebih indah selain mengungkit sebuah kenangan? Itulah mungkin yang ada di benak ibu tua yang tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di sebelah timur sungai Bengawan Solo.

Dengan album foto keluarga di tangannya, ibu tua itu menatap gambaran masa lalu dengan tatapan kosong, dan duduk di atas ranjang tua yang tidak akan mungkin bisa ditemui lagi di toko-toko tempat jualan perkakas rumah.

Rambutnya yang sudah beruban ia biarkan terurai. Wajahnya pun sudah sangat keriput seakan menandakan bahwa ia adalah nenek dengan banyak cucu. Padahal ibu tua itu hanya mempunyai tiga cucu. Diantara sepuluh anaknya yang telah ia lahirkan, baru empat yang menikah. Sekelejab, ibu tua itu tiba-tiba merasakan dirinya terlempar ke ruang masa lalu dan langsung mengingat mendiang suaminya yang telah meninggalkannya enam tahun lalu, bersama dengan anak lelakinya yang baru saja tiba dari Yogyakarta.

Dari bibirnya yang pucat, keluar sebuah cerita tentang mendiang suaminya.

“Bapakmu adalah orang pemberani. Pantas kalau ia mendapatkan posisi terhormat di desa ini. Keberanian bapakmu itu hanya didasari satu hal: Kebenaran. Kamu tentu ingat, Nak, ketika bapakmu sedang di rumah dan tiba-tiba didatangi dua orang yang ingin mengambil alih kepemilikan sekolah dan masjid, tidak hanya berdua, mereka membawa ratusan orang di luar rumah yang disuruhnya melayakan aksi demonstrasi, tetapi oleh bapakmu, mereka semua dihadapi dengan tetap tenang. Ia hadapi sendiri orang-orang itu.

Tentu, Nak, tentu bukan dengan berkelahi. Karena berkelahi adalah tindakan orang-orang yang berakal pendek. Oleh bapakmu, Ia jelaskan tentang status sekolah dan masjid bahwa itu semua adalah milik umat, sehingga tidak boleh dimiliki oleh pribadi atau oleh satu kelompok tertentu.”

Anaknya yang baru tiba dari Jogja itu hanya mengganguk kecil, sembari meraba kenangan di mana bapaknya pernah didatangi segerombolan banyak orang di rumahnya.

“Keberanian bapakmu sudah terlihat sejak dia belum menjadi siapa-siapa, Nak,” Ibu tua itu melanjutkan ceritanya. “Bapakmu dulu pernah melerai orang yang sedang bertengkar hebat di tengah jalan. Padahal mereka berbadan tinggi besar dan sedangkan bapakmu kan kecil. Tetapi Ia tidak takut, Nak. Ya, karena alasan benar itulah kenapa bapakmu berani.”
---------------------

Hujan mulai mereda. Suara kemrecehnya terdengar beriringan dengan deru motor tua di luar rumah. Ternyata orang-orang sudah mulai beraktivitas kembali di jalan. Mungkin mereka adalah orang-orang desa seberang yang baru pulang bekerja.

Dalam perjalanan pulang, mereka yang mengambil jalan melewati desa ini, karena jarak tempuh menuju rumah lebih dekat, walaupun mereka harus menyeberangi sungai Bengawan Solo yang pastinya saat musim hujan seperti ini debit airnya sedang naik-naiknya. Mereka sebenarnya bisa mengambil jalan memutar, tetapi itu membutuhkan waktu setidaknya satu jam lebih untuk sampai kembali dari tempat kerja mereka. Sedangkan kalau melalui desa ini, hanya butuh waktu 20 menit.
---------------------

Sambil melihat kembali foto-foto yang masih terawat dengan baik, ibu tua itu kemudian kembali melanjutkan cerita tentang mendianga suaminya.

“Walaupun dia menjadi orang yang terhormat dan terpandang, tidak hanya di desa ini dan bahkan sampai Kabupaten, bapakmu tidak pernah menduduki jabatan yang penting. Baik itu di partai maupun di desa atau di kabupaten ini. Bapakmu lebih memilih menjadi ketua takmir masjid. Dahulu memang pernah Bapakmu diminta menjadi pengurus partai hijau, tetapi ia menolak. Tawaran untuk menduduki jabatan itu tidak datang sekali tetapi berkali-kali, namun ia selalu menolak.

Meskipun bukan pejabat, Nak, rumah Bapakmu ini sering dikunjungi pejabat. Bahkan Bupati pun pernah datang ke rumah ini. Dulu rumah ini tidak pernah sepi, karena bapakmu dekat dengan banyak orang. Dari yang pejabat sampai masyarakat biasa.”

Ibu Tua itu lantas mencoba membangunkan ingatan anaknya ketika di akhir tahun 1990-an, ketika Bupati H. Atlan datang ke rumah itu untuk memberikan bantuan kepada salah satu penduduk desa yang keluarganya menjadi korban dari bencana banjir:

“Bukan di rumah Kepala Desa, Nak, tetapi di rumah inilah Bupati itu memberikan bantuan pada penduduk desa,” kata ibu tua itu kepada anaknya.
---------------------

Hujan benar-benar telah berhenti. Tetapi di luar, gelap mulai menghampiri dan perlahan-lahan mulai masuk kedalam rumah. Lampu-lampu rumah pun mulai dinyalakan untuk mengusir kegelapan. Suara Muammar melantunkan ayat suci Al Qur’an mulai terdengar dari corong masjid yang berada tidak jauh dari rumah tua itu. Dan ibu itu masih dengan cerita tentang mendiang suaminya:

“Nak, kalau bapakmu terkenal, itu karena perjuangannya. Sebab itulah Bapakmu dikenal sebagai seorang pejuang di desa atau kota ini. Kau ingat, Nak? Ketika pengadilan memenangkan gugatan dari salah satu kelompok yang menginginkan sekolah itu untuk dimiliki secara pribadi, oleh Bapakmu, tanah yang ia miliki, langsung diwakafkan untuk dibangunkan sekolah.

Itulah mengapa aku sering mengatakan padamu kalau Bapakmu berjuang itu tidak tanggung-tanggung, Nak. Apa yang ia miliki akan ia keluarkan demi umat. Ia juga pernah mewakafkan sebidang tanah untuk pembangunan sebuah masjid. Makanya tugasmu sekarang adalah melanjutkan perjuangan bapakmu. Berjuang demi kepentingan umat, bukan kelompok. Berjuang atas nama kebenaran.”
---------------------

Azan magrib telah berkumandang. Ibu tua itu pun beranjak dari ranjang tuanya untuk mengambil air wudhu dan mengakhiri cerita tentang suaminya. Sebelum kaki menyentuh lantai, datanglah anak perempuannya yang terakhir untuk mengadu.

“Ibu, besok saya mau balik ke Surabaya. Kuliah sudah mulai masuk.”

Ibu tua itu pun kembali dengan tatapan kosong ketika mendengar aduan anak bungsunya, dan kembali membayangkan rumahnya akan kembali sepi. Rumah yang dahulu selalu ramai itu perlahan-lahan mulai ditinggalkan penghuninya.

Sembari mengingat mendiang suaminya, Ibu tua itu juga membayangkan kalau anak lelakinya yang sedari tadi mendengar ceritanya juga akan menyusul kembali keperantauan seperti anak bungsunya yang tadi datang mengadu, balik ke Yogyakarta. Jika itu terjadi, tinggallah nanti Ibu tua itu bersama dengan kesepiannya lagi, sembari menungu kembali anak lelakinya datang kembali ke rumah untuk diceritakan mediang suaminya.
 ---------------------

Tiba-tiba hujan pun turun kembali menyapa jiwa-jiwa yang dilanda kesepian. Tapi tidak lagi terdengar suara kodok yang sedang bernyanyi kebahagian.



EmoticonEmoticon