Monday, September 11, 2017

Contoh Membuat TOR yang Baik dan Benar

Tags

Hi guys.. Pernah ikut kepanitiaan suatu acara besar? Mungkin kayak seminar, acara pelatihan, acara talk show dan lain-lain? Pasti udah kan? 

Oke nggak usah banyak nanya aja kali ya, kali ini saya mau share tentang pembuatan term of reference (tor), dimana tor ini adalah sebagai alat penjelas undangan bagi siapapun itu baik dari pembicara, pemberi sambutan dan tamu undangan yang spesial agar tahu bagiamana sih gambaran acara nya. Sehingga yang diundang tadi bisa dengan jeli mempersiapkan keperluan yang sekiranya dibutuhkan.

Nah, yang ada dalam tor itu sendiri antara lain:

·         Tema dari acara tersebut
·         Tujaun diadakannya acara tersebut
·         Waktu dan tempatnya
·         Konten-konten materi
·         Konsep acaranya
·         Perlengkapan yang disediakan

Nah dari gambaran tadi, maka gambar acara tersebut dapat dengan gampang dibayangkan oleh para tamu undangan sampai para pemateri sekalipun. Berikut ada contoh ini tor buat ngundang pembicara di acara seminar.

TERM OF REFERENCE
DIALOG KEBANGSAAN KAHMI UII
“Pancasila Akar Berbangsa dan Bernegara dalam Semangat Kebhinekaan”

Pembicara            : Yudi Latief, Ph.D
Materi                    : Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

1.        Gambaran Umum
Eko Aditya Meinarno (2012) dalam jurnal “Validasi Konkuren Skala Keber-Pancasila-an pada Remaja Mahasiswa di Jakarta” menyatakan bahwa, dewasa ini tingkat identifikasi orang Indonesia terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara terus-menerus dipertanyakan oleh berbagai pihak. Korupsi, kekerasan atas nama etnis dan agama, ketidakadilan hukum, ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan, serta upaya beberapa daerah untuk memisahkan diri dari Indonesia, merupakan sejumlah contoh gejala yang terjadi di masyarakat yang sering diatribusikan sebagai menurunnya atau bahkan hilangnya keber-Pancasila-an orang Indonesia.

Tidak hanya demikian, untuk konteks hari ini, perayaan Hari Kesaktian Pancasila-pun hanya dijadikan sebagai ritual tahunan yang nyaris tanpa makna. Upacara yang digelar di mana-mana, baik di Monumen Lubang Buaya Jakarta hingga sekolah-sekolah di pelosok negeri ini, tidak lebih dari simbol-simbol kenegaraan yang sudah kehilangan nilai kemagisannya. Oleh sebab itu, kesaktian Pancasila-pun kemudian dipertanyakan oleh segenap kalangan.

Sejak jaman Orde Baru pengupayaan melestarikan Pancasila melalui program-program pemerintah masih tidak mampu menjadikan Pancasila sebagai 'way of life'. Pada tahun ini pun, di tengah kemelut aksi-aksi organisasi kemasyarakatan radikal dan anti-Pancasila di Indonesia semakin merajalela, Presiden Joko Widodo membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Pembentukan UKP PIP ini supaya nilai-nilai Pancasila berada di dalam semua kebijakan pemerintah dan pendidikan di Indonesia.

Tentu kenyataan ini menjadi sangat ironis di tengah bangsa ini telah merayakan kemerdekaan yang ke 72 tahun. Seharusnya Pancasila sebagai dasar negara sudah final dari berbagai tafsir-tafsir banyak kalangan. Entah siapa yang harus dipermasalahkan mengenai persoalan yang terjadi saat ini. Darpito Pudyastungkoro (2010) menyatakan bahwa berbagai kecenderungan adanya keretakan bangsa, konflik berdarah, tindakan anarkis dan korupsi, merupakan indikasi lemahnya komitmen untuk menjadikan Pancasila sebagai “nurani bangsa”.

Jika yang dikemukan oleh Darpito Pudyastungkoro benar adanya, berarti ada keterputusan 'ikatan batin' antara generasi pendahulu yang menggangas Pancasila dengan generasi sekarang. Entah keterputusan tersebut hasil dari 'manipulasi' para elit negeri ini atau dari kesadaran bangsa Indonesia sendiri, untuk sekarang tidaklah begitu penting. Hal itu dikarenakan, Pancasila sudah bukan pada tataran untuk diperdepatkan tetapi Pancasila sudah masuk pada tatanan pengamalan dan power persatuan.

Sebagai dasar negara, kedudukan Pancasila bagi bangsa ini memiliki kedudukan yang sangat sentral dan tidak tergantikan. Pancasila adalah ideologi bagi bangsa ini. Sebagai ideologi, Pancasila memiliki nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia. Sehingga dapat dikatakan bahwa pancasila merupakan jati diri bangsa ini. Pendek kata, Pancasila merupakan suatu konsep yang dijadikan sebagai pegangan untuk mencapai suatu tujuan bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.      Bentuk Acara
Bentuk acara dalam materi ini adalah panel diskusi, yang mana pembicara membahas tentang bagaimana Pancasila sebagai ideologi bangsa, serta bagaimana para peserta mampu menyikapi dan menempatkan Pancasila pada tataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun pembicara disediakan perlengkapan panitia berupa: Mic, LCD, Laptop dan Sound system.

3.      Peserta
Peserta dari kegiatan ini terdiri dari; Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia, Organisasi Gerakan Mahasiswa se-Indonesia, Ikatan Pemuda Daerah lingkup D.I Yogyakarta, Komite Nasional Pemuda Indonesia, dan Mahasiswa Umum.

4.      Target dan Arahan Materi
Beberapa hal yang akan dibahas dalam materi ini adalah:
·   Memberikan gambaran umum landaran historis bagaimana Pancasila menjadi Ideologi Bangsa.
·   Memberikan gambaran bagaimana menempatkan Pancasila sebagai kekuatan ideologi bangsa pada tataran kehidupan berbangsa dan bernegara.
·     Memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai Pancasila sebagai paradigma berbangsa dan bernegara.

5.      Tujuan
Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam materi ini adalah:
·         Memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.
·         Memahami nilai-nilai Pancasila sebagai paradigma berbangsa dan bernegara.
·         Membangun rasa nasionalisme pada generasi muda.

6.      Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah :
Hari, tanggal        : Rabu, 27 September 2017
Jam                       : Pukul 10.00 s.d. 12.00 WIB
Tempat                 : Auditorium Abdul Kahar Muzakir Kampus Terpadu UII

7.       Penutup
Term of Reference ini disusun sebagai kerangka acuan dalam Dialog Kebangsaan KAHMI UII.


EmoticonEmoticon