Monday, November 7, 2016

Ada Cerita di Balik Hujan

Tags


Cerita Dibalik Hujan

“Hujan itu indah. Kala hujan turun..., itulah suasana paling romantis. Dan hujan adalah suasana paling romantis, baru setelah itu...”

Sebelum perkataan temannya itu selesai, dengan cepat dia memotong kalimatnya. “Aku tidak suka hujan.” Begitulah dia memotong perkataannya. “Hujan telah membuat langit menggelap. Begitu gelap, dan membentuk langit begitu menyedihkan. Dan karena hujan pula, senja yang biasa tertawan di ufuk barat itu lenyap. Hujan telah mengacaukan semuanya dan segalanya. Tentu juga mengacaukan indahnya senja yang biasa menampakkan dirinya berwarna keemas-emasan itu” Dia katakan kekesalannya, dan juga kepada hujan tentunya. “Aku tidak suka hujan. Aku suka senja.”

“Aku suka senja,...” Dia katakan lagi padanya. 

“Senja itu indah dan tentu saja juga romantis. Aku telah dibuat jatuh hati padanya. Karena nuansa senja mempertemukan terang dan gelap, dan membentuk langit berwarna keemas-emasan. Dan aku sangat suka memandangnya sebagai keindahan. Tentu memandang keindahan itu adalah senja, bukan hujan. Apalagi melihat senja bersama orang yang kita kasihi. Dan itulah yang aku impikan” Dan disambung dengan kalimat, “Melihat senja bersama seorang pacar”

“Jika kelak aku punyai kekasih hati, aku ingin mengajaknya melihat senja yang tertawan indah di atas lautan lepas selat Madura.” Sambil dia mengenang bekas kekasih hatinya. 2 tahun yang lampau.

“Disana, senja akan memanjang dan melintang di lautan tenang, dan pastinya akan berwarna keemas-emasan. Juga akan nampak pula di belahan langit lainnya kepakan burung-burung berterbangan bebas. Sementara dari kejauhan, kita akan tangkapi pemandangan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Dan kita akan bermesraan di bawahnya, di bawah senja, dengan ciuman penuh berahi, dan menjadikan kita sebagai siluet yang remang. Akh, begitu romantis.” Ucapnya.

“Aku suka senja, bukan hujan. Dan aku benci hujan.”

“Ah… Kau ini Rama, masih saja suka menyalahkan hujan” Begitulah temannya, Laras, berucap terhadap kekesalannya pada hujan.
****

EMPAT TAHUN KEMUDIAN. 

Suara guntur meraung keras di dinding-dinding lembah, dengan kilatnya menyambar dari balik hujan. Lebat hujan itu, dan membuat segalanya menjadi basah. Begitu juga dengan pohon Cemara di depan Losmen yang sebelumnya tampak layu kini berubah segar, penuh gairah dan daya hidup. Sedangkan dari balik luar Losmen sepasang pemuda-pemudi telah tuntaskan aktivitasnya.

“Aku suka dengan suasana hujan. Hujan memberiku kesejukan dan kedamaian. Dan untuk kita, hujan memberikan kehangatan.” Kata Rama sambil menyulut rokoknya dengan tubuh yang penuh dengan keringat.

“Aku tidak suka hujan. Ia telah menggagalkan jadwalku untuk bertemu dengannya.”

“Ah… Kau ini Laras, masih saja suka menyalahkan hujan. Berbeda dengan Laras yang dulu aku kenal. Kurang lebih sudah empat tahun kita berpisah, dan sekarang kau masih saja menyalahkan hujan.”

“Memang kenyataannya seperti itu Rama. Hujan telah menggagalkan pertemuanku dengannya. Seharusnya sekarang aku bisa mendapatkan uang 600 ribu, tetapi itu gagal gara-gara hujan. Padahal si Tua itu sudah menagih uang kontrakan, sedangkan si Minah di kampung tadi malam nelpon kalau Raja sedang sakit. Dan minggu depan sudah waktunya Ega masuk sekolah, belum juga ada uang untuk membeli peralatan sekolah.”

“Ya enggak harus menyalahkan hujan dong Laras. Hujan itu hanya mengikuti perintah Sang Pencipta. Kalau Tuhan sudah berkata jadilah maka jadilah. Kira-kira seperti itulah ajaran orang tuaku dulu sewaktu aku masih rajin mengaji.”

“Hmmm… Masih sempat kau bawa ajaran agama di atas kasur ini Rama?”

“Laras, coba kau dengar suara gemercik air di luar. Itu adalah nyanyian bahagia para perindu yang telah menemukan kekasihnya setelah terpisah sangat jauh. Satu butiran hujan yang menetes ke tanah serupa dengan pertemuan sepasang kekasih yang telah terpisah jauhnya jarak dan lamanya waktu. Serupa dengan pertemuan Adam dan Hawa, dan juga kita, Laras.

“Aku benci hujan.” Laras menaikkan selimut dan memunggungi Rama yang masih dengan kepulan asap rokok. 

“Padahal suasana hujan adalah suasana paling romantis, baru setelah itu suasana senja. Bukankah begitu Laras?”

Tidak ada jawaban dari Laras. Ia telah tertidur. Mungkin ia kecapekan karena mendengar bualan Rama. Mungkin juga ia kecapekan setelah berhubungan badan dengan Rama. Tetapi yang jelas kini ia sedang bermimpi, entah mimpi apa, hanya ia yang tahu. Kemudian Rama mencoba mengingat kejadian 4 tahun yang lalu, ketika ia masih membenci hujan. Kala itu laras bilang “Hujan itu indah. Kala hujan turun ke bumi, itulah suasana paling romantis. Dan hujan adalah suasana paling romantis, baru setelah itu suasana senja ”. “Akh.. Manusia memang cepat berubah,..” Ungkap Rama dengan kesal. “....Bukankah dahulu, ia yang bilang bahwa ketika hujan turun, itulah suasana paling romantis?”
****

Rokok itu sebenarnya masih panjang, dan masih ada sekian menit untuk menghabiskannya. Tetapi Rama telah mematikan rokok itu, dan menuruh putungnya  di asbak. Kemudian Rama menoleh kepada Laras yang telah memunggunginya. Dan Rama bergerak menuju tubuh Laras, memeluknya dari belakang, dan tepat di telinga Laras, Rama berbisik pelan; “Aku suka hujan” 

Sebenarnya Laras muak yang semenjak tadi mendengar celotehan dan bualan Rama. Kemudian Laras membaliknya badannya kehadapan Rama, dan dengan kesalnya Laras berkata keras dan tegas, “Kau sudah cabul sejak dalam pikiran, Rama!”
****

Terilhami dari cerita pendek: Laras dan keluh kesahnya.


EmoticonEmoticon