Thursday, August 9, 2018

Salah Apa Jadi Mahasiwa Tua?

Entah harus darimana pula tulisan ini harus dimulai. Bukan karena saya tidak punya dasar yang kuat untuk memulainya. Tapi ya gitulah....ketika tulisan ini ditulis dan bahkan kemudian dimuat, pasti celutakan tak senonoh, seperti orang yang tak pernah ngaji kitab Kuning Ta’lim Muta’alim itu, akan nyelutuk heboh seperti tak mau kalah dengan celetukan burung beo: “Itu hanya tulisan pembelaan aja. Kalau tua, ya, tua. Apa enggak pengen cepet lulus apa? Menuh menuhin kursi di ruang kelas aja.”
Celutukan seperti itu mah tidak apa meski sedikit panas-dingin dibilang menuh-menuhin kursi di kelas. Toh, ada pula celetukan yang lebih parah dan tidak terukur lagi takaran naudzubillah min dzalik-nya –setidaknya itu yang pernah saya dengar di curhatan grup sesama kawan seperjuangan mahasiswa tua, yang katanya: “Mbok yo Abang cepet wisuda. Enggak hanya otak yang butuh nutrisi, Bang, ‘bawahnya itu’ juga butuh.”
Jangankan Abang yang jadi mahasiwa tua, Dek, Abang yang hanya beda satu tingkat di atasnya kalian pun nyesek dengernya dan juga bingung mau jawab seperti apa. Memang salah apa sih kami jadi mahasiswa tua, Dek? Apa karena nabi Muhammad menikah dengan Siti Khatijah umurnya 25 tahun, dan kami yang sudah berumur sekitaran itu atau lebih, harus segera wisuda dan kemudian bisa cepet nikah agar hidup kami enggak dibilang bid’ah?
Serius, Kawan, memang enggak gampang, dan ‘Serba Salah’ kalau kata Raisa, jadi mahawiswa tua itu. Mahasiswa tua itu seolah menstreotipekan tak ubahnya hama yang tak boleh didekati dan diikuti. Atau, mereka tak ubahnya selilit yang nempel di sela-sela gigi yang harus segera dibuang. Jika tidak, mere-ka akan membuat gigi tersebut berlubung. Ataunya lagi, mereka tak ubahnya seperti sampah yang berserakan di tumpukan tong-tong sampah yang ketika tidak bisa dibuang harus segera cepat dibakar supaya yang lain tidak terkon-taminasi.

Pernah ada satu kejadian yang menimpa kawan sejawad kami akibat jadi mahasiwa tua, yang waktu itu alhamdulillah-nya saya belum masuk dalam kategori tersebut. Pada waktu itu Ia bertamu ke kontrakan di tengah malam hari, dan tanpa adanya pendahuluan dalam kerangka tutur bahasanya atau sistematika tutur katanya, Ia malah langsung melontarkan rumusan masalah yang tak kalah penting harus dijawab oleh penulis skripsi yang mendaku ideal:
“Apakah mahasiswa tua masuk dalam kategori variabel terikat ataukah varibel bebas untuk jadi pemimpin rumah tangga yang ideal, boi?”
Jawaban saya tentu saja ‘tidak tahu’. Paling tidak karena saya memang tidak pernah menemukan dan membaca karya ilmiah yang meneliti perihal tersebut. Bahkan sekelas Profesor pun sepertinya memang tidak mau sampai hati menilik perihal rumusan masalah yang sangat sensitif dari Kawan Sejawad itu untuk dijadikannya sebagai topik penelitan karya ilmiah.
“Kenapa memangnya, boi?” tanyaku penasaran.
“Kau tahu, saya baru saja diputus dengan alasan karena saya adalah mahasiswa tua. Entah alasan itu dijadikannya premis mayor atau minor untuk mensilogismekan, yang katanya, bahwa mahasiswa tua itu tidak akan bisa jadi imam atau pemimpin rumah tangga yang baik. ‘Ngurusi urusan kampus saja enggak becus apalagi mau ngurusi rumah tangga’, katanya, boi.”
Tentu saja saya ikutan nyesek mendengar jawaban si Kawan Sejawad tersebut –walaupun (lagi-lagi dengan rendah hatinya saya tetap akan bilang) pada waktu itu saya belum masuk dalam kategori tersebut. Tapi bukan alasan begitu nyesek dan penuh stigma tanpa kerangka landasan teori yang enggak jelas sumber darimana resfrensinya itulah, yang kemudian menjamur dan mengaramkanku berkomitmen untuk ikutan menjadi mahasiswa tua. Tidak. Itu bukan alasan yang prinsipil dan ideologis. Itu bukan jalan ninja yang kupilih.

Tetapi Adek-Adek sekalian yang budiman, kalian harus bisa berfikir jernih untuk menelaah dan menilai kenapa Abang-Abang itu memilih atau kenapa kuliahnya bisa lama. Sama seperti halnya Moh. Hatta, wakil presiden pertama itu memilih untuk memutuskan tidak menikah atau memiliki tamba-tan hati sebelum melihat Indonesia merdeka –yang ternyata takaran cintanya terhadap anti-kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu melebihi kecintaannya terhadap perempuan– dan lantas kita tidak dapat melekatkan label jomblo ngenes atas pilihan hidupnya, maka ada pula dari segelintirin Abang-Abang yang jadi mahasiswa tua itu memilih jalan yang esensinya sama seperti Hatta.
Tidak hanya itu, Adek-Adek, masih banyak tipikal kenapa Abang-Abang itu memilih atau terpaksa mendapatkan label mahasiswa tua. Banyak. Seperti karena terhambatnya mereka dengan urusan administrasi di kampus, juga ada yang ternyata mendapat dosen pembimbing yang susah pakek bingit ditemui, atau ternyata juga ada pula tipikal mahasiswa (tua) yang lebih asik menggeluti keilmuan yang lebih universal daripada sekedar teori-teori terapan yang dipersembahkan oleh kampus, dan lain sebagainya. Sebab itulah kalian tidak bisa mengambil keputusan-menilai, yang kalau kata Hayati kepada Zaenuddin, yang maha kejam lewat deretan premis-premis logika yang belum tentu absah dilekatkan pada tiap tipikial Abang-abang mahasiswa tua itu.
Atau paling tidak, jikalau kalian tak bisa mempremis-mayor-minorkan realitas sosial kehidupan mahasiswa secara utuh pada tiap tipikal mahasiswa tua itu dan kemudian mengacaukan konklusinya dan menyebabkan penilaian yang tidak hanya menyimpang tapi sekaligus mengundang fitnah, cukuplah kalian baca buku ‘Rekayasa Sosial’-nya Jalaluddin Rakhmat dengan anteng di warung kopi. Setidaknya dari bacaan itu kalian tidak terjebak ke dalam fallacy of dramatic instance, yang selalu memiliki kecenderungan melakukan over generalisation terhadap mahasiswa tua dengan menggunakan satu-dua kasus untuk mendukung argumen/kesimpulan yang bersifat umum. Seperti kasus si Kawan Sejawad.
Ya, seperti kasus si Kawan Sejawad. Bukan karena alasan diputus akibat mahasiswa tua itulah yang membuat malam itu jadi malam yang haru-biru. Juga bukan dikarenakan sepetak tanah yang telah Ia siapkan lama-lama hari untuk menikahi mantan tambatan hatinya itu pula yang menjadikam malam itu tak ubahnya seperti sinema film FTV atau Indosiar penuh drama. Bukan.
Tetapi, tentang bagaimana ternyata perjuangan si Kawan Sejawad untuk memperjuangkan kuliahnya ditengah Ia tidak mempunyai biaya –atau tepatnya tidak ada yang membiayai kualiahnya, dan harus pontang-panting kerja paruh waktu sana-sini dan kesana-kemari untuk mendapatkan biaya. Dan harus sampai hati pula cuti beberapa semester dipertengahan jalan. Eh, dilalah, tambatan hati yang mulanya jadi pelipur lara kala Ia mengarungi jalan setapak penuh krikil dan batu-batu cadas penuh hambatan menuju masa depan itu, malah mengambil sikap yang tak kalah maha kejamnya daripada sikap Zainuddin.

Adakah kesalahan pada diri Kawan Sejawad itu jadi mahasiswa tua? Hingga kalian tetap akan berceloteh kalau mahasiswa tua itu ‘menuh menuhin kursi kelas’ dam harus segera cepat minggat. Benar-benar salahkah jalan yang diambil Kawan Sejawat itu? Pontang-panting kesana-kemari agar kuliahnya tetap berjalan meski telat. Atau lainnya juga secara umum, salah apa mereka jadi mahasiswa tua? Bukankah tiap orang atau mahasiswa (tua) punya jalan-nya masing-masing untuk mengarui sesuatu, baik itu secara pilihan prinsipil dan ideologis dan atau bahkan karena nasib. Bukankah tiap kesimpulan harus berbanding lurus dengan latar belakang pada bab 1 –kalau nulis karya ilmiah? Apakah latar belakang tiap mahasiswa tua itu sama secara umum? Hingga teganya kalian langsung menyimpulkan seenak udelnya.
Toh, kalau memang mau ikutan songong-songongan kayak tipikal mahasiswa ‘yang itu’; “Yang bayar biaya kuliah toh bukan kalian juga. Yang punya urusan masa depan bukan juga kalian yang repot. Yang punya masalah dengan urusan akademik juga bukan kalian yang pusing. Ngapain sih ngurusi kuliahnya orang lain?” katanya. Jadi, letak kesalahan mahasiswa tua itu ada dimana? Tolong beritahu kami jangan cuma nyeletuk dan menghina saja.
Bukankah hanya satu kesalahan pada mereka/kami. Iya, hanya satu saja: Kuliah ditahun yang lebih dulu daripada kalian –jadi sama saja.

Note: Tulisan ini ditulis ditengah sela-sela kesibukan menulis skripsi yang maha telat minta ampun. Jadi tulisan ini sama saja dibaca oleh kalian, Masasiswa Tua. Tidak ada pembelaan. Cepet garap skripsi kalian, Mahasiswa Tua. Kalian bukan hama atau selilit atau sampah yang harus segera dibuang atau dibakar. Kalian hanya beda atau terlambat memahami konsep tatanan waktu. Tetapi itu tak apa, setidaknya lebih baik terlambat wisuda daripada terlambat menyadari kalau kalian adalah pilihan kedua ketika dia bosan –seperti nasib si Kawan Sejawad.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon